Metode & sumber data

Metode Perhitungan Jadwal Sholat

Semua waktu sholat di situs ini dihitung mengikuti parameter resmi Kementerian Agama RI, untuk 510 kabupaten/kota di 38 provinsi.

Jadwal sholat bukan ditetapkan secara manual, melainkan dihitung secara astronomis dari posisi matahari terhadap titik koordinat (garis bujur dan lintang) sebuah wilayah. Kami menggunakan metode dan parameter yang sama dengan yang dipakai Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), sehingga hasilnya konsisten dengan jadwal resmi.

Parameter perhitungan

Waktu Kriteria
Subuh Matahari -20° di bawah ufuk (fajar shadiq)
Terbit Piringan atas matahari di ufuk timur (-1° dengan refraksi)
Dzuhur Matahari melewati titik kulminasi (tengah hari) + ihtiyat
Ashar Panjang bayangan benda sama dengan bendanya (mazhab Syafi’i)
Maghrib Piringan atas matahari terbenam di ufuk barat + ihtiyat
Isya Matahari -18° di bawah ufuk (hilang mega merah)
Imsak 10 menit sebelum waktu Subuh

Ihtiyat (waktu pengaman)

Setelah perhitungan astronomis, ditambahkan ihtiyat — umumnya sekitar 2 menit — pada setiap awal waktu sholat. Ihtiyat memberi kehati-hatian agar sholat tidak dilakukan sebelum waktunya dan mencakup seluruh wilayah dalam satu kabupaten/kota yang luas.

Zona waktu WIB, WITA, dan WIT

Indonesia terbagi dalam tiga zona waktu: WIB (UTC+7), WITA (UTC+8), dan WIT (UTC+9). Karena posisi matahari berbeda di tiap garis bujur, waktu sholat di kota zona WITA dan WIT umumnya lebih awal dibanding kota zona WIB. Itulah sebabnya setiap kota memiliki jadwal tersendiri, bukan satu jadwal nasional.

Lihat juga panduan waktu sholat untuk penjelasan setiap waktu sholat fardhu.

Pertanyaan tentang metode perhitungan

Apa sumber data jadwal sholat di situs ini?
Seluruh jadwal sholat dihitung mengikuti metode dan parameter resmi Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), data diakses melalui API publik myquran. Parameter yang digunakan sama dengan yang dipakai pada aplikasi dan situs resmi Kemenag.
Berapa sudut yang dipakai untuk waktu Subuh dan Isya?
Kemenag RI menggunakan ketinggian matahari -20° di bawah ufuk untuk waktu Subuh (fajar shadiq) dan -18° untuk waktu Isya. Nilai ini berbeda dengan beberapa metode internasional (misalnya MWL yang memakai 18°/17°), sehingga jadwal Kemenag bisa sedikit berbeda dari aplikasi luar negeri.
Apa itu ihtiyat?
Ihtiyat adalah waktu pengaman (biasanya sekitar 2 menit) yang ditambahkan pada hasil perhitungan astronomis. Tujuannya agar awal waktu sholat tidak mendahului waktu sebenarnya dan akhir waktu tidak terlewat, memberi kehati-hatian bagi seluruh wilayah dalam satu kabupaten/kota.
Mengapa jadwal sholat berbeda antar kota?
Waktu sholat bergantung pada posisi matahari terhadap titik koordinat (garis bujur dan lintang) serta zona waktu. Karena itu setiap kabupaten/kota memiliki jadwal sendiri. Kota di zona WITA dan WIT mengalami waktu sholat lebih awal dibanding zona WIB.