Komunitas 6 menit baca 14 Februari 2025

Ratusan Santri Pesantren Turun Tangan Bantu Korban Banjir di Demak

Ketika banjir besar melanda Demak dan merendam ribuan rumah warga, yang pertama kali tiba di titik pengungsian bukan selalu tim pemerintah — tapi para santri dari pesantren-pesantren sekitar yang bergerak cepat dengan perahu karet dan ransum makanan.

Demak, Jawa Tengah. Awal tahun 2024 lalu, banjir besar yang merendam puluhan desa di Demak menjadi salah satu bencana alam yang paling banyak mendapat perhatian. Lebih dari 10.000 jiwa mengungsi, dan situasi di lapangan bergerak sangat cepat — terlalu cepat untuk menunggu koordinasi formal.

Di sinilah jaringan pesantren di Jawa Tengah membuktikan fungsinya sebagai tulang punggung komunitas. Dalam waktu kurang dari 24 jam setelah banjir pertama kali melanda, ratusan santri dari berbagai pesantren — mulai dari Kudus, Jepara, hingga Semarang — sudah ada di lokasi bencana.

Gerakan yang Tidak Menunggu Komando

Yang menarik dari respons ini adalah sifatnya yang organik. Tidak ada satu lembaga pusat yang mengomandoi semua ini. Pengasuh pesantren di berbagai kota cukup menyebarkan kabar via grup WhatsApp para alumni dan santri tua, dan dalam hitungan jam orang-orang sudah bergerak.

"Kami nggak nunggu ada yang nyuruh. Kemarin malamnya kita dengar kabar dari kawan di Demak, langsung malam itu juga siapkan perahu, logistik, dan berangkat subuh," cerita salah satu santri dari Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang yang ikut dalam rombongan relawan.

Apa yang Mereka Lakukan di Lapangan?

  • Evakuasi warga yang terjebak menggunakan perahu karet dan ban dalam yang diikat
  • Mendirikan dapur umum di titik-titik pengungsian — masak dan distribusi makanan tiga kali sehari
  • Membantu koordinasi di posko pengungsian, termasuk pendataan warga dan distribusi logistik
  • Memberikan pendampingan psikologis — terutama untuk anak-anak dan lansia yang trauma
  • Mengimami sholat berjamaah di tenda pengungsian, membantu warga tetap menjalankan ibadah meski dalam kondisi darurat

"Di pesantren kami diajarkan: siapa pun yang bisa meringankan kesulitan saudaranya, lakukanlah. Tidak perlu menunggu ada yang meminta."

— Relawan santri, Demak 2024

Bukan Kali Pertama

Ini bukan fenomena baru. Jaringan pesantren di Indonesia — terutama yang tergabung dalam NU maupun yang berdiri mandiri — sudah lama dikenal sebagai salah satu responden pertama dalam bencana alam di Jawa dan sekitarnya. Gempa Cianjur 2022, banjir Madiun 2023, bencana tanah longsor di berbagai wilayah — hampir selalu ada santri dan alumni pesantren di antara barisan relawan terdepan.

Ini adalah wajah Islam yang sering tidak masuk headline berita utama, tapi nyata adanya di lapangan.

Semoga bermanfaat! 🤲 ← Kembali ke semua artikel